asteroklorosis dan hiperlipedemia


Aterosklerosis
         adalah penyempitan dan penebalan arteri karena penumpukan plak pada dinding arteri. Penumpukan plak tersebut terjadi saat lapisan sel pada dinding dalam arteri (endothelium) yang bertugas menjaga kelancaran aliran darah mengalami kerusakan.
Plak yang menyebabkan aterosklerosis terdiri dari kolesterol, zat lemak, kalsium, dan fibrin (zat dalam darah).  Plak dapat terbawa aliran darah hingga menyebabkan penyumbatan, atau membentuk bekuan darah pada permukaan plak. Hal tersebut menyebabkan peredaran darah dan oksigen dari arteri ke organ tubuh terhambat.
Meski digolongkan sebagai gangguan jantung, aterosklerosis sebenarnya dapat terjadi pada arteri di bagian tubuh mana pun, seperti otak, ginjal, atau kaki, serta dapat memicu masalah kesehatan di bagian-bagian tersebut.
Terjadinya aterosklerosis bisa berawal sejak masa anak-anak dan berkembang terus secara perlahan. Gejala membahayakan baru muncul ketika usia penderita mencapai 50 atau 60 tahun. Kendati demikian, penyakit ini dapat dihindari dan diatasi dengan perubahan gaya hidup,
Gejala Aterosklerosis
Gejala aterosklerosis baru akan terasa ketika arteri sudah sangat menyempit dan menghambat peredaran darah menuju  jaringan atau organ tubuh. Gejala yang muncul tergantung pada lokasi terjadinya ateriosklerosis, di antaranya:
  • Aterosklerosis pada tangan dan kaki; menimbulkan nyeri saat berjalan (klaudikasio).
  • Aterosklerosis pada ginjal; menyebabkan gagal ginjal dan tekanan darah tinggi.
  • Aterosklerosis pada jantung; menyebabkan nyeri dada (angina).
  • Aerosklerosis pada otak; mengakibatkan tangan dan kaki lemah atau kaku, kesulitan bicara, otot wajah melemah, atau kehilangan penglihatan sementara pada salah satu mata.
Penyebab Aterosklerosis
Penyebab pasti aterosklerosis belum diketahui, namun penyakit ini dimulai saat terjadi kerusakan atau cedera pada lapisan dalam arteri (endothelium). Kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh:
  • Kadar kolesterol, trigliserida, serta tekanan darah yang tinggi.
  • Diabetes atau resisten terhadap insulin.
  • Penyakit yang menyebabkan peradangan, seperti artritis, infeksi, atau lupus.
  • Kebiasaan merokok.
  • Obesitas.
Selain penyebab di atas, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat aterosklerosis juga diduga berisiko tinggi untuk menderita penyakit yang sama.
Diagnosis Aterosklerosis
Diagnosis dapat diawali dengan pemeriksaan fisik. Terjadinya gangguan peredaran darah dapat ditandai dengan denyut nadi yang lemah, tekanan darah yang rendah pada tungkai yang terganggu, serta penyembuhan luka . Hasil pemeriksaan fisik tersebut perlu diperkuat dengan beberapa pemeriksaan lanjutan yang meliputi:
  • Tes darah, untuk melihat kadar kolesterol dan gula darah.
  • Perbandingan indeks tekanan darah kaki dan lengan, guna memeriksa penyumbatan arteri pada tangan dan kaki.
  • Elektrokardiogram (EKG), untuk memeriksa aktivitas jantung yang dapat menunjukkan bukti serangan jantung sebelumnya.
  • USG Doppler, guna melihat adanya penyumbatan arteri dengan gelombang suara.
  • Stress test atau pemeriksaan treadmill, untuk memeriksa aktivitas elektrik jantung dan tekanan darah saat melakukan kegiatan fisik.
  • Pemindaian, meliputi magnetic resonance angiogram (MRA) dan CT scan untuk memeriksa kondisi arteri.
  • Angiogram dan katerisasi jantung, yaitu pemeriksaan kondisi arteri jantung dengan menyuntikkan zat kontras (pewarna) pada arteri sehingga dapat terlihat melalui foto R
Pengobatan Aterosklerosis
Penangan aterosklerosis dapat dilakukan melalui tiga hal, yaitu perubahan gaya hidup, obat-obatan, serta prosedur operasi.
Perubahan gaya hidup sehari-hari merupakan hal utama yang perlu dilakukan. Penderita dianjurkan untuk lebih sering berolahraga guna meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta mengurangi konsumsi makanan dengan kadar lemak dan kolesterol yang tinggi.
Selain perubahan gaya hidup, pemberian obat-obatan juga penting untuk mencegah arterosklerosis bertambah buruk. Di antaranya adalah:
  • Obat untuk pencegah pembekuan darah yang menghambat arteri. Obat yang mungkin diberikan adalah antiplatelet dan antikoagulan, seperti aspirin.
  • Obat penurun tekanan darah. Obat yang mungkin diberikan adalah penghambat beta (beta blockers), penghambat kanal kalsium (calcium channel blockers), dan diuretik guna meningkatkan laju urin
  • Obat penurun kadar kolesterol jahat (LDL), seperti misalnya statin dan asam fibrat.
  • Obat penghambat enzim angiostensin (ACE inhibitors). Obat ini dapat meredakan perkembangan aterosklerosis dengan menurunkan tekanan darah dan mencegah penyempitan arteri.
  • Obat-obatan lain untuk mengendalikan kondisi medis yang menyebabkan terjadinya aterosklerosis, misalnya obat diabetes.
Pada kasus aterosklerosis parah, prosedur operasi perlu dilaksanakan. Di antaranya adalah:
  • Operasi bypass, untuk mengatasi penyumbatan atau penyempitan arteri. Operasi ini dilakukan dengan cara memintas pembuluh darah yang tersumbat  dengan menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain atau selang berbahan sintetis agar darah tetap mengalir.
  • Terapi fibrinolitik untuk mengatasi penyumbatan arteri akibat pembekuan darah.
  • Pemasangan tabung (stent) dan angioplasty. Tujuan prosedur ini sama dengan operasi bypass, yaitu untuk mengatasi penyempitan atau penyumbatan arteri. Dalam prosedur ini, dokter akan memasang dua buah kateter dan tabung kecil agar arteri tetap terbuka.
  • Endarterektomi untuk membuang simpanan lemak pada dinding arteri yang menyempit.
  • Arterektomi untuk membuang plak dan arteri.
Komplikasi Aterosklerosis
Komplikasi yang dapat terjadi akibat aterosklerosis adalah:
  • Serangan iskemik sesaat (stroke ringan/TIA) dan stroke, ketika aterosklerosis terjadi pada arteri yang berada di dekat organ otak.
  • Gangrene (jaringan mati), ketika aterosklerosis terjadi pada tangan dan kaki yang mengakibatkan gangguan sirkulasi darah.
  • Penyakit ginjal kronis, ketika aterosklerosis terjadi pada arteri yang mengarah pada ginjal.
  • Aneurisma atau pelebaran pembuluh darah pada dinding arteri.
  • Serangan jantung, gagal jantung, serta angina, ketika aterosklerosis terjadi pada arteri jantung.
Hiperlipidemia
 adalah istilah medis untuk kondisi di mana kadar lipid atau lemak dalam darah meningkat tinggi atau tidak normal. Penting bagi Anda untuk mewaspadai kondisi ini. Terkadang gejala tidak dapat dirasakan, namun efeknya di kemudian hari dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, atau bahkan bisa berujung kematian.Hiperlipidemia lebih dikenal dengan istilah kolesterol tinggi, karena ditandai dengan tingginya kadar kolesterol, trigliserida, atau keduanya. Ini merupakan dua jenis lipid atau lemak utama yang terdapat dalam darah.
Trigliserida berasal dari kalori ekstra yang disimpan oleh tubuh dan dari makanan Anda, seperti produk olahan susu, daging, produk makanan tinggi gula, fruktosa, dan minuman beralkohol. Sedangkan kolesterol diproduksi secara alami di organ hati dan dapat diperoleh dari makanan berlemak, seperti telur, daging merah, dan keju. Adapun kolesterol dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu kolesterol baik (High Density Lipoprotein/HDL) dan kolesterol jahat (Low Density Lipoprotein/LDL).
Kolesterol menjadi masalah ketika kadar kolesterol jahat terlalu tinggi dan kadar kolesterol baik yang terlalu rendah. Biasanya, orang dengan hiperlipidemia memiliki kadar kolesterol jahat dan trigliserida yang terlalu tinggi. Kadar kolesterol dan trigliserida yang terlalu tinggi dapat menyebabkan sumbatan atau plak pada dinding pembuluh darah. Seiring waktu, plak tersebut dapat meluas dan menyumbat arteri, sehingga menyebabkan penyakit jantung dan stroke.
Faktor Risiko Hiperlipidemia
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hiperlipidemia, antara lain:
  • Gaya hidup tidak sehat
    Obesitas, terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, kebiasaan merokok, terlalu sering mengonsumsi minuman beralkohol, dan malas berolahraga, dapat berpengaruh buruk terhadap kadar kolesterol Anda.
  • Obat-obatan tertentu
    Pil KB, obat diuretik, dan beberapa jenis obat antidepresi, juga diketahui dapat memengaruhi kadar kolesterol Anda.
  • Kondisi kesehatan tertentu
    Tingkat kolesterol abnormal bisa ditemukan pada ibu hamil dan orang yang menderita penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, kelainan tiroid, dan sindrom ovarium polikistik.
  • Keturunan
    Hiperlipidemia juga bisa bersifat genetik atau keturunan. Umumnya, orang dengan kondisi hiperlipidemia turunan memiliki kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi sejak usia Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dini dan serangan jantung. Gejalanya bisa dirasakan dalam beberapa tahun, seperti nyeri dada, serangan jantung ringan, kram di betis saat berjalan, luka pada jari kaki yang tidak kunjung sembuh, dan gejala stroke.
Gejala dan Diagnosis Hiperlipidemia
Hiperlipidemia hampir tidak menunjukkan tanda dan gejala. Namun pada hiperlipidemia turunan, bisa muncul gejala seperti pertumbuhan lemak kekuningan di sekitar mata dan persendian.
Untuk memastikan kondisi hiperlipedimia, maka harus dilakukan tes darah yang disebut pemeriksaan profil lemak atau panel lipid. Hasil pemeriksaan ini akan menunjukkan kadar kolesterol total, kadar trigliserida, kadar kolesterol baik dan kolesterol jahat.
Kadar normal kolesterol setiap orang bervariasi tergantung riwayat dan kondisi kesehatan. Kadar kolesterol total yang normal adalah di bawah 200 mg/dL, dan dapat dikatakan tinggi apabila melebihi 240 mg/dL. Kadar LDL dianggap normal apabila berkisar antara 100 – 129 mg/dL, dan termasuk kategori sangat tinggi apabila melebihi 190 mg/dL. Kadar trigliserida yang normal adalah di bawah 150 mg/dL, dan termasuk kategori tinggi jika melebihi 200 mg/dL.
Cara Mengatasi Hiperlipidemia
Penanganan hiperlipidemia bisa beragam. Kebanyakan kasus hiperlipidemia bisa diatasi dengan mengubah dan memperbaiki gaya hidup. Dalam beberapa kasus, hiperlipidemia harus ditangani dengan mengonsumsi obat-obatan medis. Berikut ini beberapa cara untuk menurunkan kadar kolesterol yang terlalu tinggi:
  • Menerapkan gaya hidup sehat
    Menjalani pola hidup sehat dan pola makan sehat dengan menu rendah lemak dan kaya serat, menjaga berat badan, rajin berolahraga, berhenti merokok, dan membatasi konsumsi minuman beralkohol, dapat menurunkan kadar kolesterol Anda.
  • Obat medis
    Ada beberapa jenis obat untuk mengatasi kondisi hiperlipidemia. Obat kolesterol yang sering diresepkan dokter adalah obat golongan statin. Obat ini ampuh untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Asam nikotinat juga dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dan kadar trigliserida tinggi. Fibrat adalah jenis obat lain untuk menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kadar kolesterol baik. Ada pula jenis obat baru yang dapat menghambat penyerapan kolesterol dari makanan, obat tersebut disebut penghalang penyerapan kolesterol selektif (selective cholesterol absorption inhibitor).
Referensi
Bergheanu, et al. (2017). Pathophysiology and Treatment of Atherosclerosis. Netherlands Heart journal, 25(4), pp. 231-242.
Rafieian-Kopaei, et al. (2014). Atherosclerosis: Process, Indicators, Risk Factors and New Hopes. IJPM, 5(8), pp. 927-946.
NHLBI (2018). Atherosclerosis.
Mayo Clinic (2018). Diseases and Conditions. Arteriosclerosis/atherosclerosis.
American Heart Association (2017). Atherosclerosis.
Martel, J. Healthline (2017). Atherosclerosis.
WebMD (2018). What Is Atherosclerosis?
US National Library of Medicine MedlinePlus (2016). Cholesterol.
American Heart Association AHA (2017). Prevention and Treatment of High Cholesterol (Hyperlipidemia).
Tidy, C. Patient (2017). Hyperlipidaemia.
Lab Tests Online (2015). Lipid Panel.
Osborn, C. & Marcin, J. Healthline (2017). What You Should Know About Hyperlipidemia.
Beckerman, J. WebMD (2016). What Is Hyperlipidemia?
Permasalahan
1.Mengapa penyakit asteroklorosis dapat terlihat dampaknya pada umur 50-60 tahun?
2.bagaimana mekanisme obat dari aspirin untuk pengobatan asteroklorosis?
3.sebutkan jenis-jenis hiperlipedemia?
4.Adakah pengobatan non farmakologis bagi penderita hiperlipedimia?

Comments

  1. hay kak.. aaya akan menjawab soal nomor satu.. penyakis asterosskelorosi terilihat pada usia lanjut karena adanya penurunan fungsi organ yang signifikan

    ReplyDelete

  2. no 3
    Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe ini menyebabkan sakit perut, infeksi berulang, pada pankreas, dan pembesaran hati dan limpa. Ini disebabkan oleh kondisi keturunan yang menganggu kerja lemak normal (kelainan enzim lipoprotein lipase).
    Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan yang bisa menyebabkan peumpukan lemak di bawah kulit dan sekitar mata akibat tingginya kadar LDL. Kondisi ini dikenal dengan hiperkolesterolemia familial (tipe IIa) dan hiperlipidemia gabungan familial (tipe IIb).
    Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial, yang ditandai dengan kadar HDL terlalu rendah sementara kadar LDL normal. Ciri khasnya adalah terjadinya xantoma (plak datar berwarna abu-abu pada kelopak mata dan di sekitar mata).
    Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah, yang memicu kadar glukosa dan insulin tinggi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya setuju dengan jawaban yang diberikan ike
      Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe ini menyebabkan sakit perut, infeksi berulang, pada pankreas, dan pembesaran hati dan limpa. Ini disebabkan oleh kondisi keturunan yang menganggu kerja lemak normal (kelainan enzim lipoprotein lipase).
      Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan yang bisa menyebabkan peumpukan lemak di bawah kulit dan sekitar mata akibat tingginya kadar LDL. Kondisi ini dikenal dengan hiperkolesterolemia familial (tipe IIa) dan hiperlipidemia gabungan familial (tipe IIb).
      Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial, yang ditandai dengan kadar HDL terlalu rendah sementara kadar LDL normal. Ciri khasnya adalah terjadinya xantoma (plak datar berwarna abu-abu pada kelopak mata dan di sekitar mata).
      Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah, yang memicu kadar glukosa dan insulin tinggi.

      Delete
  3. Jawaban no. 2
    MEKANISME KERJA ASPIRIN
    ® Mengasetilasi enzim siklooksigenase dan menghambat pembentukan enzim cyclic endoperoxides.
    ® Menghambat sintesa tromboksan A-2 (TXA-2) di dalarn trombosit, sehingga akhirnya menghambat agregasi trombosit.
    ® Menginaktivasi enzim-enzim pada trombosit tersebut secara permanen. Penghambatan inilah yang mempakan cara kerja aspirin dalam pencegahan stroke dan TIA (Transient Ischemic Attack).
    ® Pada endotel pembuluh darah, menghambat pembentukan prostasiklin. Hal ini membantu mengurangi agregasi trombosit pada pembuluh darah yang rusak.

    ReplyDelete
  4. Jawaban no. 4
    Yaitu dengan diet rendah lemak/lipid, berolahraga teratur, tidur yang cukup

    ReplyDelete
  5. Hallo kak ai, saya akan mncoba mnjwab pertanyaan nmor 3
    Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe ini menyebabkan sakit perut, infeksi berulang, pada pankreas, dan pembesaran hati dan limpa. Ini disebabkan oleh kondisi keturunan yang menganggu kerja lemak normal (kelainan enzim lipoprotein lipase).
    Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan yang bisa menyebabkan peumpukan lemak di bawah kulit dan sekitar mata akibat tingginya kadar LDL. Kondisi ini dikenal dengan hiperkolesterolemia familial (tipe IIa) dan hiperlipidemia gabungan familial (tipe IIb).
    Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial, yang ditandai dengan kadar HDL terlalu rendah sementara kadar LDL normal. Ciri khasnya adalah terjadinya xantoma (plak datar berwarna abu-abu pada kelopak mata dan di sekitar mata).
    Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah, yang memicu kadar glukosa dan insulin tinggi.

    ReplyDelete
  6. kak jawaban no 1 karena pada usia lanjut fungsi orang mulai berkurang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya saya setuju dengan anggun. Pada usia lanjut organ organ mulai menurun kemampuannya dalam menjalankan fungsinya.

      Delete
  7. hai kak, saya akan menjawab pertanyaan no 3,
    Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak.
    Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan
    Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial
    Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah.

    ReplyDelete
  8. Hallo kak ai.
    Saya akan menjawab pertanyaan nomor 2.
    Jenis-jenis hiperlipidemia yaitu:
    1. Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe ini menyebabkan sakit perut, infeksi berulang, pada pankreas, dan pembesaran hati dan limpa. Ini disebabkan oleh kondisi keturunan yang menganggu kerja lemak normal (kelainan enzim lipoprotein lipase).
    2. Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan yang bisa menyebabkan peumpukan lemak di bawah kulit dan sekitar mata akibat tingginya kadar LDL. Kondisi ini dikenal dengan hiperkolesterolemia familial (tipe IIa) dan hiperlipidemia gabungan familial (tipe IIb).
    3. Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial, yang ditandai dengan kadar HDL terlalu rendah sementara kadar LDL normal. Ciri khasnya adalah terjadinya xantoma (plak datar berwarna abu-abu pada kelopak mata dan di sekitar mata).
    4. Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah, yang memicu kadar glukosa dan insulin tinggi.

    ReplyDelete
  9. Baiklah saya akan menjawab pertanyaan nomor 3 yaitu Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak.
    Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan
    Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial
    Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi d

    ReplyDelete
  10. Hai kak Ai, Jawaban no. 2
    MEKANISME KERJA ASPIRIN
    ® Mengasetilasi enzim siklooksigenase dan menghambat pembentukan enzim cyclic endoperoxides.
    ® Menghambat sintesa tromboksan A-2 (TXA-2) di dalarn trombosit, sehingga akhirnya menghambat agregasi trombosit.
    ® Menginaktivasi enzim-enzim pada trombosit tersebut secara permanen. Penghambatan inilah yang mempakan cara kerja aspirin dalam pencegahan stroke dan TIA (Transient Ischemic Attack).
    ® Pada endotel pembuluh darah, menghambat pembentukan prostasiklin. Hal ini membantu mengurangi agregasi trombosit pada pembuluh darah yang rusak.

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Hay kak ai saya bantu jawab pertanyaan nomor 4 dengan menerapkan pola hidup sehat

    ReplyDelete
  13. Hai kak ai. saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2.
    Jenis-jenis hiperlipidemia, yaitu:
    1. Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe ini menyebabkan sakit perut, infeksi berulang, pada pankreas, dan pembesaran hati dan limpa. Ini disebabkan oleh kondisi keturunan yang menganggu kerja lemak normal (kelainan enzim lipoprotein lipase).
    2. Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan yang bisa menyebabkan peumpukan lemak di bawah kulit dan sekitar mata akibat tingginya kadar LDL. Kondisi ini dikenal dengan hiperkolesterolemia familial (tipe IIa) dan hiperlipidemia gabungan familial (tipe IIb).
    3. Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial, yang ditandai dengan kadar HDL terlalu rendah sementara kadar LDL normal. Ciri khasnya adalah terjadinya xantoma (plak datar berwarna abu-abu pada kelopak mata dan di sekitar mata).
    4. Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah, yang memicu kadar glukosa dan insulin tinggi.

    ReplyDelete
  14. Hai kak ai. Pemaparan yang sangat baik. Diharapkan dapat terus membuat artikel menarik lainnya😁

    ReplyDelete
  15. Saya akan jwab nmor 3. Hiperlipidemia tipe I, hiperlipidemia tipe II:IIa dan IIb, hiperlipidemia tipe III, tipe IV dan tipe V

    ReplyDelete
  16. Jawaban no 3, tipe2 nya antara lain:
    Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe ini menyebabkan sakit perut, infeksi berulang, pada pankreas, dan pembesaran hati dan limpa. Ini disebabkan oleh kondisi keturunan yang menganggu kerja lemak normal (kelainan enzim lipoprotein lipase).
    Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan yang bisa menyebabkan peumpukan lemak di bawah kulit dan sekitar mata akibat tingginya kadar LDL. Kondisi ini dikenal dengan hiperkolesterolemia familial (tipe IIa) dan hiperlipidemia gabungan familial (tipe IIb).
    Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial, yang ditandai dengan kadar HDL terlalu rendah sementara kadar LDL normal. Ciri khasnya adalah terjadinya xantoma (plak datar berwarna abu-abu pada kelopak mata dan di sekitar mata).
    Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah, yang memicu kadar glukosa dan insulin tingg

    ReplyDelete
  17. Haii kak, mega bantu jawab nomor 3 ya, menurut mega jenis hiperlipidemia dibagi menjadi 2, yaitu:
    • Hiperlipidemia Primer
    Banyak disebabkan oleh karena kelainan genetik. Biasanya kelainan ini ditemukan pada waktu pemeriksaan laboratorium secara kebetulan. Pada umumnya tidak ada keluhan, kecuali pada keadaan yang agak berat tampak adanya xantoma (penumpukan lemak di bawah jaringan kulit).
    • Hiperlipidemia Sekunder
    Pada jenis ini, peningkatan kadar lipid darah disebabkan oleh suatu penyakit tertentu, misalnya : diabetes melitus, gangguan tiroid, penyakit hepar & penyakit ginjal. Hiperlipidemia sekunder bersifat reversibel (berulang).

    ReplyDelete
  18. No 1
    penyakit asterosskelorosi terilihat pada usia lanjut karena adanya penurunan fungsi organ yang signifikan

    ReplyDelete
  19. Aterosklerosis juga penyakit degeneratif

    ReplyDelete
  20. hallo kak, saya akan mncoba jawab no 3
    Tipe I biasanya terjadi pada anak-anak. Tipe ini menyebabkan sakit perut, infeksi berulang, pada pankreas, dan pembesaran hati dan limpa. Ini disebabkan oleh kondisi keturunan yang menganggu kerja lemak normal (kelainan enzim lipoprotein lipase).
    Tipe II (a dan b), disebabkan oleh faktor keturunan yang bisa menyebabkan peumpukan lemak di bawah kulit dan sekitar mata akibat tingginya kadar LDL. Kondisi ini dikenal dengan hiperkolesterolemia familial (tipe IIa) dan hiperlipidemia gabungan familial (tipe IIb).
    Tipe III dikenal dengan disabetalipoproteinemia familial, yang ditandai dengan kadar HDL terlalu rendah sementara kadar LDL normal. Ciri khasnya adalah terjadinya xantoma (plak datar berwarna abu-abu pada kelopak mata dan di sekitar mata).
    Tipe IV ditandai dengan kadar trigliserida tinggi dan kolesterol rendah, yang memicu kadar glukosa dan insulin tinggi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

peptida dan polipeptida kimed

identifikasi farmakofor